Pemuda yang Kesepian: Antara Idealisme dan Realistis
Oleh Syuhud Syayadi Amir (kader SDC)
Masih saatnya menulis cerita tentang pemuda yang kebingungan, pemuda yang dipertemukan dengan berbagai kisah lelucon anak bangsa.
Menjadi sepi, harapan menjadi pincang karena sebuah keadaan. Maka biarlah kalimat ini menjadi saksi tentang sebuah penyesalan yang selalu bercampur dengan harapan masa depan.
Pemuda yang selalu mencari arah ke mana ia akan melangkahkan kakinya menuju keadilan, ke mana ia akan melangkahkan kakinya menuju kesejahteraan.
Tiada waktu selain berpikir dan meratapi keadaan. Mungkin bisa salah karena membiarkan semua semakin berlalu-lalang menuju kehancuran, terlalu banyak berpikir, sehingga kehilangan banyak kesempatan.
Tetapi, inilah kenyataan yang sungguh mengilukan. Kenyataan pahit yang harus ditelan dan dirasakan. Hanya berharap semoga masih tetap berdiri tegak memegang sebuah prinsip dan keyakinan, bahwa idealisme harus tetap diperjuangkan.
Banyak yang ingin diceritakan. Namun, mungkin hanya bisa diurai secara samar-samar, tentang sebuah kemunafikan yang dipoles perjuangan.
Ini soal kisah! Kisah pemuda yang memiliki banyak mimpi untuk bangsanya; Kisah pemuda yang memiliki banyak harapan tetapi ditelan oleh realitas yang jauh dari kata ideal. Ada yang membentang antara alam ide dan kenyataan. Akhirnya, ia masih merasa seperti anak kecil yang kehilangan pundak untuk menangis.
Uang, uang, uang! Ada apa dengan uang? Ada apa dengan jabatan? Ada apa dengan pengaruh? Kenapa semua itu menjadi rebutan?
Bilamana harapannya adalah demi bangsa, harapannya demi kepentingan bersama; harapannya demi peradaban bangsa, lantas mengapa terkadang hal itu menjadi pisau bahkan tembak untuk saling membunuh? Kenapa menjadi alat untuk meraup keuntungan individu semata? Kenapa terkadang hanya menjadi alat korupsi?
Pendidikan. Sejauh mana pemuda itu memikirkan pendidikan? Sejauh mana pemuda itu memikirkan keadaan bangsanya? Sejauh mana pemuda itu memikirkan politik, budaya, ekonomi dan lain sebagainya?
Terkadang ia merasa sendiri di tepi-tepi yang sepi. Ia merasa sendiri di dalam gua kesedihan. Ia merasa sendiri hanya bersama cinta dan harap pada keadaan masa depan.
Jika bukan karena "Hubbul Wathan minal iman", apa pentingnya mengurusi dan memikirkan sebuah kemajuan?
Iya, bahwa kita hanya bisa mengarahkan kepada yang baik, karena Tuhan yang akan menentukan hasil akhirnya. Tugas kita hanya menyampaikan. Maka biarkan saja semua itu berjalan dengan semestinya, toh kita sudah menyampaikan. Jangan pusing!
Sepakat memang! Tetapi, sudikah kiranya kau merasakan derita si miskin yang kelaparan? Sudikah kiranya kau merasakan perasaan orang-orang yang sampai menjual harga dirinya demi uang?
Sudikah setiap waktu engkau selalu dihadiri wajah anak-anak kecil yang akan menggantikan perjalan kita ke masa depan bangsa kelak? Sedangkan anak-anak itu semakin jauh dari nilai kebatinan (kebajikan).
Engkau siapa? Lagi-lagi engkau menanyakan pemuda itu tentang siapa dirinya? Engkau tidak bisa mengaku paling berjuang dan engkau juga tidak bisa mengatur semua kehidupan ini! katamu.
Betul! Tetapi, ingatkah engkau tentang sebuah cerita nabi Muhammad sebelum meninggal? Ummati, ummati, ummati!
Muhammad mencintai umatnya! Engkau umat Muhammad yang memiliki pemimpin dan nabi yang cintanya kepada umatnya sungguh besar. Lantas, ketika membiarkan saudara kita kehilangan harapan, kehilangan masa depan, kehilangan semua hanya karena keadaan yang memaksa buruk, itukah cinta?
Engkau paling mulia gitu sebagai umat Muhammad? Kau masih menanyakan tentang hal itu. Padahal, kita manusia sudah pasti memiliki dosa. Tetapi apa kita harus membiarkan dosa-dosa itu terjadi selamanya karena kita punya dosa?
Kalau menunggu kita baik untuk menyampaikan kebaikan, sampai kapan? Yakin kita akan baik selama-lamanya?
Angin, malam, siang, suasana ini selalu memaksa akal dan hati untuk bernyanyi bersamanya. Menyatu menjadi satu dan memanggil kekasih-kekasih untuk ikut serta menari bersama.
Pamekasan, 21 Oktober 2022 M.
(Editor M Lutfi)
#Dalam_Hidup
#sdc
#karyaanaksdc
#literasi
#artikel
#opini

Komentar
Posting Komentar