Matahari Akan Terbit (Narasi Kontemplatif Anggota SDC)


Oleh : Syuhud Syayadi Amir


Gerakan-gerakan masa lalu selalu diwarnai dengan alasan terbaik anak bangsa: Melawan penjajahan, mengisi kemerdekaan, bahkan menciptakan segala sesuatu yang terbaik untuk masa depan.

Kini, suasana lahirnya gerakan-gerakan itu kembali terbit. Matahari akan terbit. Suasana itu kembali terasa dan akan lahir menjadi harapan gemilang masa depan anak bangsa ini. Akan lahir pejuang masa depan, akan lahir pemuda masa depan, akan lahir mahasiswa yang konsisten menjadi manusia yang cinta akan bangsanya (nasionalis sejati).

Harapan itu terlihat di kampus-kampus, terlihat di desa-desa, terlihat di kota-kota dan terlihat di semua lini kehidupan. Komunitas banyak bermunculan, organisasi semakin menampakkan kiprahnya, mahasiswa semakin meresapi indahnya persatuan. Mungkin, akan lahir gerakan persatuan dari semua elemen rakyat dan melahirkan masa depan cerah untuk Indonesia.

Sedang sebagian mereka masih tertawa dengan bangganya mengecoh anak bangsa sendiri, mereka dengan asyiknya menikmati kekayaan alam bangsa yang harusnya menjadi anugerah bagi semuanya tetapi malah dinikmati oleh sebagian orang saja. Bahkan mereka dengan mudahnya meremehkan kekuatan kebenaran dan mencoba untuk melenyapkan eksistensi pemuda bangsa ini.

Tetapi, kita masih ada. Kita anak bangsa masih bisa menatap dan membedakan mana yang bangsat dan mana yang baik. Kita masih berdiri tegak untuk menyampaikan bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Kita masih memiliki kekuatan untuk membongkar segala bentuk kebiadaban kaum tamak yang mungkin mempolesnya dengan kata-kata baik. Pada hakikatnya dalil mereka hanya satu, hanya ingin kaya dan masyhur walau didapat dengan cara merampas hak rakyat.

Kita pemuda dan mahasiswa masih peka dengan keadaan. Kita masih bisa menumpaskan seluruh kebusukan manusia, baik itu yang berada di kekuasaan, partai, dan lain sebagainya. Kita masih bisa menganalisis menggunakan pengalaman dan pengetahuan. Kita masih bisa menilik bahwa tidak semua yang memiliki kekayaan didapatkan dari kemurnian, tidak semua jabatan didapatkan dengan cara normal, bahkan tidak semua ijazah dan sertifikat didapatkan dari kesungguhan hati untuk mewarnai kemerdekaan ini.

Matahari akan terbit, kebusukan akan terbenam dan tidak akan kembali lagi. Cinta akan kemanusiaan, cinta akan alam, cinta akan sebuah bangsa, dan cinta akan Tuhan masih merasuk dalam dada, masih merasuk dalam sukma, dan masih lekat dalam slogan "perjuangan tampa pamrih", perjuangan yang nyata, dan perjuangan yang tidak sekadar menjadi omong kosong semata.

Persatuan masih ada. Persatuan masih mewarnai jiwa anak bangsa, perlawanan akan segala bentuk kezaliman masih menggema laksana lentera yang selalu hidup untuk menerangi kegelapan. Mimpi membangun bangsa menjadi berkemajuan, membangun bangsa menjadi bangsa yang sejahtera, membangun bangsa menjadi bangsa yang berperadaban masih keras menggema ke langit yang tinggi.

Katakan kepada mereka, bahwa kita masih memiliki keberanian untuk mengatakan tidak kepada kemunafikan. Katakan kepada mereka, bahwa kita masih berani mengatakan tidak kepada segala bentuk perbudakan atas nama penghormatan (feodalisme). Katakan kepada mereka bahwa kita masih bisa bersuara dan membongkar kemunafikan yang dipendam atas nama perjuangan.

Kita masih berani mengatakan bahwa mengoreksi dan meneliti semua lembaga yang dicurigai terdapat persekongkolan yang jahat, terdapat persekongkolan yang buruk, dan terdapat transaksi kebiadaban masih sangat wajib dilakukan.

Kita akan bertanya kepada siapa pun yang memiliki tanggung jawab mengemban amanah bangsa ini bahwa apakah mereka benar-benar bertanggung-jawab atau hanya ingin mengambil untung daripada amanah yang didapatnya. Persetan dengan mengurusi sungguh-sungguh kewajibannya dan membuat anak bangsanya sendiri termakan oleh keadaan yang semakin mendekati penjajahan.


Biodata Penulis: Syuhud Syayadi Amir, mahasiswa IAIN Madura, aktif di berbagai komunitas, anggota SDC dan anggota MPKPK HmI Komisariat Insan Cita IAIN Madura.

(Dikurasi oleh tim editor SDC)


Pamekasan, 29 September 2022 M. 

#narasianaksdc

#sdcberkarya

#sdcmenulis

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SDC Adakan Diskusi Publik, Transparansi Program UHC, Masyarakat Sampang Gratis Berobat?

SDC Peduli Kesehatan Masyarakat: Kerjasama dengan Puskesmas Batu Lengir Lakukan Penyemprotan Fogging

Ketimpangan Akses Pendidikan Masyarakat Desa: Pemuda Sampang Bergerak Distribusikan Buku ke Sekolah-sekolah